Ulah Lurah: Wakil Wali kota Makasaar di Caci Bernada Kasar dalam Pemilhan RT/RW
LINTAS-KHATULISTIWA.COM. MAKASSAR – Demokrasi adalah panggung yang kompleks, namun sering kali, gejolak terbesar justru muncul dari arena yang paling kecil, yakni pemilihan Ketua Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW). Inilah realitas pahit yang kini dihadapi oleh Wakil Wali Kota Makassar, Aliyah Mustika Ilham.
Di tengah kesibukan memimpin Rapat Koordinasi persiapan Pemilihan Ketua RT/RW di Balai Kota, Rabu (26/11/2025), Aliyah Mustika mengungkapkan sebuah pengakuan yang mengejutkan: dirinya dihujani cacian dan makian dari masyarakat terkait proses pemilihan tersebut.
Bukan sekadar kritik konstruktif, Wawali Aliyah mengaku menerima pesan-pesan WhatsApp yang bernada kasar dan tidak pantas, Ia juga menyoroti betapa panasnya suhu politik di level akar rumput Kota Daeng.
Aliyah Mustika, yang juga istri dari mantan Wali Kota Ilham Arief Sirajuddin, mengakui bahwa intensitas kebencian yang ia terima kali ini jauh melampaui isu-isu birokrasi sebelumnya, termasuk mutasi lurah yang biasanya sensitif.
“Dulu banyak pesan WhatsApp masuk terkait mutasi lurah. Kalau lurah itu masih santun bahasanya. Tapi sekarang, soal RT RW, sudah bukan santun lagi, melainkan caci maki,” ungkapnya di hadapan para asisten, staf ahli, Satpol PP, Kesbangpol, hingga jajaran camat yang hadir dalam rapat tersebut.
Fenomena ini menunjukkan kontradiksi yang ironis. Pemilihan RT/RW, yang seharusnya menjadi simbol partisipasi warga paling dekat, kini justru menjadi sumber kegaduhan besar yang merembet hingga ke level pimpinan kota. Aliyah mengaku hampir setiap hari menerima pesan bernada keras yang seolah-olah menuduhnya terlibat dalam intervensi proses pemilihan.
Menanggapi arus hujatan yang deras, Aliyah Mustika kembali menegaskan posisinya. Bersama Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, peran mereka di masa pemilihan ini hanyalah sebatas pemantau.
Ia secara tegas menyatakan bahwa dirinya tidak ikut campur dalam persiapan teknis maupun hasil akhir pemilihan. Keputusan mengenai siapa yang berhak memimpin lingkungan sepenuhnya diserahkan kepada masyarakat Makassar sendiri.
“Kami biarkan warga memilih siapa yang berhak dan siapa yang mereka inginkan,” tegasnya
Serangan kritik yang Kami diterima (Aliyah) mengindikasikan adanya persepsi publik bahwa pemerintah kota, atau setidaknya birokrasi di bawahnya, mencoba mengarahkan hasil pemilihan.
Jika Wawali Makassar telah menarik diri dari intervensi, lantas dari mana sumber kegaduhan dan tuduhan kecurangan tersebut berasal?
Dalam rapat koordinasi, ia secara khusus meminta para camat untuk memperketat pengawasan terhadap Lurah agar tetap bersikap netral. Aliyah khawatir, sebagian Lurah mungkin belum sepenuhnya memahami batasan dan mekanisme pemilihan, sehingga merasa memiliki kekuasaan untuk mengintervensi masyarakat.
“Mentang-mentang sudah duduk di posisinya sebagai penguasa, mungkin lurah ini belum punya pembekalan secara utuh terkait pemilihan RT RW,” ujarnya
Intervensi Lurah inilah yang dinilai Aliyah berpotensi besar memicu keributan dan ketidakpercayaan di level masyarakat. Ketika lurah—sebagai representasi pemerintah terdekat—tidak netral, proses pemilihan yang seharusnya berjalan damai akan terasa tidak jujur dan merusak legitimasi hasil akhirnya.
Gejolak pemilihan Ketua RT/RW yang tidak disangka sebegitu besarnya ini menjadi tantangan serius bagi Pemkot Makassar. Aliyah Mustika berharap, dengan penegasan netralitas dari pimpinan kota dan pengawasan ketat terhadap Camat dan Lurah, proses pemilihan dapat kembali ke relnya.
Wawalai menekankan, Demi meredam badai cacian dan menjaga kehormatan demokrasi di Makassar, Juga pentingnya pemilihan yang berjalan jujur, adil, dan bersih tanpa kegaduhan.
Wawali Aliyah berpesan ini menjadi cermin bahwa dalam politik daerah, terkadang jabatan terkecil pun membawa beban konflik sebesar jabatan tertinggi. Di Makassar, perjuangan untuk netralitas kini tidak hanya terjadi di bilik suara, tetapi juga di kotak masuk pesan WhatsApp seorang Wakil Wali Kota.”Pungkasnya.

