LINTAS-KHATULISTIWA.COM. PANGKEP – Panggung SMK Negeri 1 Pangkep pada Kamis (20/11/2025) menjadi pusat perayaan identitas daerah. Bukan hanya sekadar ajang unjuk bakat, lomba tari yang menjadi salah satu cabang seni unggulan dalam Pekan Olahraga, Seni, dan Pembelajaran (Porsenijar) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Pangkep tahun ini, secara tegas mengusung tema besar: Kearifan Lokal.
Lomba tari ini menetapkan standar tinggi bagi para guru peserta, menuntut mereka tidak hanya menampilkan keindahan gerak, tetapi juga esensi budaya yang melekat pada wilayah kerja cabang PGRI masing-masing.
Ketua Perempuan PGRI Pangkep, Sutriani, menekankan bahwa cabang seni ini merupakan wadah strategis bagi para pendidik untuk menampilkan potensi tersembunyi mereka, sekaligus menjadi duta pelestarian warisan daerah.
“Cabang seni menjadi ruang bagi guru untuk menampilkan bakat, kreativitas, dan ekspresi budaya daerah. Ini bukan hanya hiburan, tapi juga tanggung jawab kultural,” ujar Sutriani.
Penekanan pada kearifan lokal memastikan bahwa tarian yang disajikan tidak bersifat seragam, melainkan kaya akan karakteristik geografis dan sosial. Sutriani memberikan contoh spesifik mengenai mandat tematik ini.
“Khusus untuk tari mengangkat kearifan lokal sesuai karakteristik cabang masing-masing. Misalnya, Balocci yang identik dengan pegunungan, tentu gerak tarinya harus mencerminkan alam dan kehidupan di sana. Demikian pula cabang-cabang lainnya yang mungkin mewakili kehidupan pesisir, pertanian, atau sejarah lokal Pangkep,” jelasnya.
Dengan tema yang ketat ini, setiap kelompok tari ditantang untuk melakukan riset dan interpretasi mendalam terhadap tradisi setempat, mengubahnya menjadi koreografi yang dinamis dan relevan. Para guru dituntut menjadi seniman sekaligus sejarawan.
Persaingan di panggung cukup ketat. Tim juri tidak hanya terpukau oleh kostum atau semangat peserta, tetapi menerapkan serangkaian kriteria penilaian yang menyeluruh.
Aspek penilaian meliputi empat pilar utama: Penampilan (keserasian dan daya tarik visual), Teknik (akurasi dan penguasaan gerak), Kreativitas (inovasi dalam koreografi dan musik), serta yang tak kalah penting, Pola Lantai (penggunaan ruang panggung yang efektif dan artistik). Kombinasi elemen-elemen ini memastikan tarian yang menang adalah perpaduan sempurna antara tradisi dan modernitas.
Lebih dari sekadar kompetisi, kegiatan Porsenijar ini diyakini menjadi katalisator bagi kemajuan organisasi PGRI di Pangkep. Sutriani berharap melalui kegiatan seperti ini, PGRI dapat semakin maju, lebih mengembangkan kompetensi, dan tentunya menumbuhkan kreativitas para anggotanya.
“Kami berharap, dengan kegiatan ini PGRI semakin maju. Lebih mengembangkan kompetensi dan juga kreatifitas,” harapnya.
Bagi para pemenang, tantangan baru telah menanti. Kelompok tari yang berhasil meraih predikat juara di tingkat kabupaten ini akan dipersiapkan secara intensif untuk melangkah lebih jauh, mewakili Kabupaten Pangkep pada ajang Porsenijar tingkat provinsi yang dijadwalkan berlangsung pada tahun 2026 mendatang.
Melalui gemuruh tepuk tangan dan lenggok tari yang bercerita, guru-guru Pangkep telah membuktikan bahwa ruang kelas bukan satu-satunya tempat mereka mengajar. Panggung seni adalah ruang di mana mereka mengajarkan nilai tertinggi: mencintai dan merayakan kearifan lokal.

