LINTAS-KHATULISTIWA.COM. LAIKANG-KEL.TALAKA,KEC.MA’RANG,KAB.. PANGKEP. Kajian Islam: 20/11/2025. Bulan Rajab, bulan ketujuh dalam kalender Hijriah, seringkali identik dengan dua peristiwa luar biasa yang dialami oleh junjungan kita, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam: Isra’ dan Mi’raj. Peristiwa ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan bukti nyata keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan keistimewaan yang dianugerahkan kepada Nabi-Nya.
Isra’: Perjalanan Malam yang Mengagumkan
Isra’ mengacu pada perjalanan malam ajaib yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dimulai dari Masjidil Haram di Makkah, beliau diperjalankan oleh Allah menggunakan hewan istimewa bernama al-Buraq, yang kecepatannya melampaui kilat, menuju Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis. Perjalanan singkat yang menempuh jarak ratusan kilometer ini adalah manifestasi dari kekuasaan Allah yang tak terbatas, memberikan kemudahan luar biasa kepada utusan-Nya.
Setibanya di Masjidil Aqsa, sebuah pemandangan yang mengharukan terbentang. Para nabi terdahulu berkumpul, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin mereka dalam shalat. Momen ini bukan hanya penghormatan kepada para nabi, tetapi juga simbol persatuan umat dari masa ke masa, menunjukkan bahwa risalah kenabian adalah satu kesatuan yang utuh di bawah naungan Allah.
Mi’raj: Pendakian Menuju Arasy Ilahi
Setelah menunaikan shalat di Masjidil Aqsa, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan perjalanannya ke alam langit dalam peristiwa Mi’raj. Beliau naik menembus tujuh lapis langit. Di setiap tingkatan langit, beliau bertemu dengan para nabi mulia:
Langit Pertama: Bertemu dengan Nabi Adam ‘alaihissalam.
Langit Kedua: Berjumpa dengan Nabi Isa ‘alaihissalam dan Nabi Yahya ‘alaihissalam.
Langit Ketiga: Bertemu dengan Nabi Yusuf ‘alaihissalam.
Langit Keempat: Bergaul dengan Nabi Idris ‘alaihissalam.
Langit Kelima: Berpapasan dengan Nabi Harun ‘alaihissalam.
Langit Keenam: Berdialog dengan Nabi Musa ‘alaihissalam, yang kelak akan menyarankan untuk meminta keringanan shalat kepada Allah.
Langit Ketujuh: Bersua dengan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang bersandar di Baitul Ma’mur, kiblat para malaikat.
Puncak dari Mi’raj adalah saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di sana, keindahan yang tak terlukiskan terpampang di Sidratul Muntaha, pohon yang menjadi saksi bisu penciptaan dan tempat turunnya takdir. Di momen teragung inilah, Allah mewajibkan shalat lima waktu bagi umat Islam, sebuah pilar utama dalam agama. Rasulullah juga diperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah yang lain, termasuk gambaran surga dan neraka, sebagai pelajaran dan peringatan bagi hamba-Nya.
Keajaiban Isra’ dan Mi’raj menyimpan hikmah yang sangat berharga bagi setiap Muslim:
Meneguhkan Keagungan dan Kekuasaan Allah: Peristiwa ini adalah bukti tak terbantahkan akan kebesaran dan kemahakuasaan Allah. Allah mampu melakukan hal-hal yang melampaui nalar manusia, menunjukkan kepada hamba-Nya bahwa segala sesuatu mungkin terjadi atas kehendak-Nya. Surat Al-Isra’ ayat 1 dengan jelas menyatakan, “Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Mengangkat Derajat Keistimewaan Rasulullah: Isra’ dan Mi’raj adalah bentuk penghormatan tertinggi dari Allah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau dipilih sebagai satu-satunya manusia yang mengalami perjalanan luar biasa ini, sebuah tanda kepercayaan dan kemuliaan yang dianugerahkan kepadanya sebagai penutup para nabi.
Menekankan Pentingnya Shalat: Kewajiban shalat lima waktu yang diterima langsung oleh Rasulullah di Arasy adalah penegasan betapa pentingnya ibadah ini. Shalat adalah sarana utama bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah, momen berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta. Pengalaman Mi’raj mengajarkan kita bahwa shalat adalah kunci untuk meraih kedekatan spiritual dan meraih berkah Ilahi.
Amalan di Bulan Rajab untuk Meraih Berkah
Bulan Rajab, sebagai bulan terjadinya Isra’ dan Mi’raj, adalah momentum yang baik untuk meningkatkan amal ibadah. Beberapa amalan yang sangat dianjurkan di bulan ini antara lain:
Memperbanyak Doa dan Sholawat: Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 56, bersalawat kepada Nabi adalah perintah yang mendatangkan rahmat.
Memperbanyak Istighfar: Memohon ampunan kepada Allah adalah kunci kebersihan hati dan ketenangan jiwa.
Memperbanyak Sedekah: Sedekah di bulan Rajab dipercaya dapat membebaskan seorang muslim dari siksa api neraka.
Berpuasa: Puasa sunnah di bulan Rajab dapat menjadi persiapan yang baik untuk menyambut Ramadhan dan meraih kemuliaan dari Allah.
Shalat Sunnah Malam: Seperti yang dicontohkan oleh Sayyidina Ali radhiyallahu ‘anhu, memperbanyak shalat malam di bulan Rajab adalah amalan yang sangat dicintai oleh Allah SWT.
Semoga dengan merenungkan keajaiban Isra’ dan Mi’raj, kita semakin bertambah keimanan, memperkuat hubungan kita dengan Allah melalui shalat, dan senantiasa berusaha menjadi hamba yang senantiasa dekat dengan-Nya. Amin.

