Pangkep, – Di bawah naungan atap Rumah Adat Saoraja (Assouraja) yang kaya sejarah, ribuan harapan akan panen raya kembali dipancangkan. Minggu (9/11/2025) menjadi penanda dimulainya musim tanam padi 2025–2026 di Ma’rang, Pangkep, melalui penyelenggaraan Ritual Mappalili yang khidmat dan meriah, dilanjutkan dengan malam kebersamaan Tudang Sipulung.
Acara sakral yang secara harfiah berarti ‘Komando Turun Sawah’ ini tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga sarana pengukuhan komitmen komunitas terhadap ketahanan pangan nasional. Mengusung tema ambisius: “Melalui Ritual Mappalili, Kita Wujudkan Peningkatan Swasembada Pangan Nasional,” kegiatan ini berhasil menyatukan unsur adat, pemerintah, aparat keamanan, hingga akademisi.
Sinergi di Jantung Budaya Bugis
Kehadiran unsur keamanan negara dalam ritual adat menjadi sorotan utama, menunjukkan eratnya sinergi antara kepolisian dan masyarakat dalam setiap aspek kehidupan, termasuk pertanian.
Wakapolsek Ma’rang, Ipda Hasan, S.H., didampingi Bhabinkamtibmas Aipda Wahyuddin, turut serta dalam setiap rangkaian prosesi. Kehadiran beliau menegaskan bahwa tugas Polri melampaui sekadar menjaga ketertiban, tetapi juga menjadi bagian integral dari pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat lokal.
Ritual Mappalili dihadiri oleh spektrum tokoh masyarakat yang luas, mulai dari Lurah Bonto-Bonto Barhaman, Ketua KTNA Usman Kambi, Lc., anggota DPRD Pangkep Muh. Aidil, hingga mahasiswa UNM Makassar yang datang untuk belajar langsung dari kekayaan tradisi leluhur.
Tradisi Mappalili sendiri merupakan warisan turun-temurun masyarakat Ma’rang, diselenggarakan sebagai penanda kesiapan spiritual dan fisik sebelum bibit padi pertama ditanam. Ini adalah momentum memperkuat semangat gotong royong—sebuah nilai fundamental yang menjadi kunci keberhasilan pertanian komunal.
Dari Barasanji ke Forum Tudang Sipulung
Ketika matahari terbenam, suasana yang khidmat beranjak menjadi hangat dan akrab. Kegiatan dilanjutkan dengan malam budaya yang kaya makna. Pembacaan Barasanji (pujian-pujian keagamaan) memberikan dimensi spiritual yang mendalam, diikuti oleh pentas seni tari tradisional yang dibawakan penuh semangat oleh siswa-siswi SMPN 1 Ma’rang.
Puncak kebersamaan malam itu adalah Tudang Sipulung—forum duduk bersama dan berdialog. Di bawah atap Rumah Adat, para petani, tokoh adat, dan pejabat pemerintah berdiskusi mengenai tantangan dan strategi pertanian ke depan, mengubah perbedaan pendapat menjadi solusi kolektif. Untuk menambah semarak dan merayakan keakraban santai, malam itu ditutup dengan lomba domino yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Imbauan Kamtibmas di Tengah Musim Tanam
Dalam kesempatan Tudang Sipulung tersebut, Ipda Hasan memanfaatkan momentum kebersamaan untuk menyampaikan pesan penting Kamtibmas (Keamanan dan Ketertiban Masyarakat) yang relevan dengan masa tanam.
Mengingat wilayah Pangkep sering terdampak cuaca ekstrem, Wakapolsek Ma’rang secara khusus mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Kami mengajak masyarakat untuk selalu berhati-hati terhadap potensi bencana alam seperti angin puting beliung, pohon tumbang, tanah longsor, dan banjir bandang,” ujar Ipda Hasan.
Imbauan ini menyoroti peran kepolisian sebagai mitra siaga. Kesiapsiagaan terhadap bencana alam bukan hanya soal keselamatan jiwa, tetapi juga perlindungan terhadap lahan dan hasil pertanian yang baru akan digarap. Keberhasilan Mappalili, pada akhirnya, juga bergantung pada mitigasi risiko yang baik.
Ritual Mappalili dan Tudang Sipulung di Rumah Adat Assouraja Ma’rang sekali lagi membuktikan bahwa tradisi lokal adalah sumber kekuatan. Ia bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi sarana pemantik semangat gotong royong yang berkelanjutan, memastikan bahwa musim tanam baru di Ma’rang dimulai dengan optimisme, keamanan, dan harapan untuk swasembada pangan yang lebih kuat.

