LINTAS-KHATULISTIWA.COM. Jakarta.4 November 2025. Di tengah hiruk-pikuk politik, di antara riuh rendah pro dan kontra, ada satu kalimat yang menggema dari rakyat jelata: “Nikmat yang mana lagi yang engkau dustakan?” Ini bukan sekadar pertanyaan—ini adalah tamparan bagi mereka yang sibuk berdebat tanpa melihat nyali perjuangan sebenarnya.
Pemerintah meluncurkan program pemenuhan gizi bagi siswa-siswi, sebuah langkah nyata untuk mencerdaskan generasi bangsa. Tapi apa yang terjadi? Alih-alih disambut dengan tangan terbuka, program ini justru menjadi bahan perdebatan elit politik dan publik. Ada yang mendukung dengan alasan ini investasi masa depan, ada pula yang menolak dengan dalih ketidaksempurnaan teknis.
Padahal, di pelosok desa, seorang anak kecil menahan lapar demi bisa sekolah. Di sudut kota, seorang ibu berjuang membeli sebutir telur untuk anaknya yang kurus. Mereka tidak butuh retorika politik—mereka butuh sepiring nasi bergizi.
Lalu, di mana posisi kita? Sibuk mempertanyakan siapa yang pantas berbuat, atau justru lupa bertanya pada diri sendiri: “Apa yang sudah aku berikan untuk bangsa ini?”
Jangan tanya siapa yang berjuang hari ini. Tanyakan pada hatimu—apakah engkau bagian dari solusi, atau justru bagian dari masalah?
Karena bangsa ini tidak butuh kata-kata indah. Bangsa ini butuh tindakan. Dan gizi yang cukup adalah langkah pertama menuju generasi yang lebih cerdas.
Jika hari ini kita masih meragukan niat baik program ini, mungkin itu bukan salah pemerintah—tapi salah kita yang terlalu sering mendustakan nikmat.

