LINTAS-KHATULISTIWA COM. Desa Pitue, Jumat, 29 Agustus 2025 – Tragedi adalah guru termahal, dan Desa Pitue telah belajar pahit dari kematian yang tak terhindarkan beberapa bulan lalu. Sebuah kasus Leptospirosis, penyakit yang disebabkan oleh bakteri dari urin tikus, telah merenggut nyawa warga dan bahkan ditetapkan sebagai Penyakit Luar Biasa (PLB). Tak ingin duka serupa terulang, Pemerintah Desa Pitue bergerak cepat, bersinergi dengan mahasiswa KKN UINAM, untuk menyebarkan penyuluhan masif mengenai bahaya dan pencegahan penyakit mematikan ini.
Penyuluhan yang bertajuk “Cegah Penyebaran Luas Penyakit Leptospirosis” ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah misi edukasi penting. Bertempat di H.Haere Salah satu Tokoh Masyarakat Desa Pitue, acara ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, menunjukkan keseriusan kolektif dalam menangani ancaman kesehatan ini. Ketua BPD, Kepala Dusun, perwakilan RK dan RT, serta para Kader menjadi tulang punggung penyebaran informasi di tingkat akar rumput. Namun, fokus utama penyuluhan ini adalah pada kelompok masyarakat yang paling rentan: para nelayan dan petani rumput laut . Dengan aktivitas sehari-hari yang erat dengan lingkungan udara dan lumpur, mereka memiliki risiko paparan yang jauh lebih tinggi terhadap bakteri Leptospira yang mungkin ditularkan oleh hewan pengerat.
Sebagai narasumber kunci, Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan hadir untuk mengupas tuntas seluk-beluk Leptospirosis. Dengan bahasa yang mudah dipahami, beliau menjelaskan bagaimana penyakit ini menular – seringkali melalui kontak kulit yang luka dengan udara atau tanah yang terkontaminasi urin tikus. Pemahaman mendalam tentang gejala, mulai dari demam mendadak, sakit kepala hebat, nyeri otot, hingga mata merah, menjadi krusial agar masyarakat dapat mengenali dan segera mencari pertolongan medis.
Namun, inti dari penyuluhan ini adalah pencegahan. Berbagai langkah preventif ditekankan, seperti selalu memakai alas kaki saat beraktivitas di area basah, menjaga kebersihan lingkungan rumah dan tempat kerja tikus, mencuci tangan dan kaki setelah berinteraksi dengan tanah atau udara yang berpotensi terkontaminasi, serta menjaga kebersihan makanan dan minuman dari jangkauan tikus. Selain itu, informasi mengenai pengobatan dini dan pentingnya tidak menunda pemeriksaan medis ketika gejala muncul juga menjadi poin penting yang disampaikan.
Muhammad Nasrul, Kepala Desa Pitue , dalam Berbagainya yang penuh harap, menegaskan ulang tujuan utama dari kegiatan ini. “Saya selaku Kepala Desa Pitue sangat berharap, dengan adanya penyuluhan ini, masyarakat telah mengetahui dampak bahaya penyakit Leptospirosis. Semoga ke depannya, tidak ada lagi kasus baru yang terjadi di Desa Pitue kita tercinta ini,” ujarnya penuh penekanan.

Penyuluhan ini bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari gerakan sadar kesehatan yang lebih luas di Desa Pitue. Dengan bekal pengetahuan yang komprehensif, diharapkan masyarakat tidak lagi abai terhadap ancaman “kencing tikus” yang seringkali dianggap sepele. KKN UINAM juga akan terus mendampingi program-program kesehatan desa, memastikan bahwa edukasi berkelanjutan dan langkah-langkah pencegahan terus diterapkan.
Melalui kerja sama yang solid antara pemerintah desa, sejarawan, dan partisipasi aktif masyarakat, Desa Pitue kini bersiaga. Waspada adalah kunci, dan dengan pemahaman yang luas, Desa Pitue optimis dapat mencegah meluasnya Leptospirosis, menjaga kesehatan warganya, dan memastikan tidak ada lagi duka akibat penyakit yang dapat dicegah ini.

