Jakarta– Bagi mereka yang tumbuh di Indonesia dari tahun 1970-an hingga 1990-an, nama Anita Rachman membangkitkan gelombang nostalgia. Lahir di Magelang, Jawa Tengah, pada tanggal 12 September 1944, Anita Rachman lebih dari sekadar pembawa berita; ia adalah bagian tak terpisahkan dari rumah tangga Indonesia, wajah dan suara yang tak asing yang menyampaikan berita dan informasi kepada negara yang sebagian besar bergantung pada satu stasiun televisi: TVRI.
Pada masa itu, TVRI memegang monopoli media visual di Indonesia. Jauh sebelum menjamurnya stasiun televisi swasta dan sumber berita berbasis internet, TVRI merupakan satu-satunya penyedia berita, hiburan, dan informasi. Dan Anita Rachman, dengan suaranya yang khas dan merdu, menjadi identik dengan kredibilitas dan kewibawaan stasiun tersebut.
Ia bukan sekadar presenter berita; ia adalah sosok terpercaya yang menyampaikan berita dengan jelas dan berwibawa. Suaranya menggema di hati masyarakat Indonesia, sehingga ia mendapat reputasi yang pantas sebagai penyiar legendaris TVRI.
Namun, bakat Anita Rachman jauh melampaui layar televisi. Ia adalah seorang profesional media yang serba bisa, yang berkontribusi pada lanskap media Indonesia dalam berbagai kapasitas. Selain bekerja di TVRI, ia juga menjadi presenter untuk program bahasa Inggris di RRI (Radio Republik Indonesia), yang menunjukkan kemahirannya dalam bahasa tersebut dan menjangkau segmen audiens yang berbeda.
Selain itu, ia adalah seorang penulis, narator, dan penerjemah yang terampil. Kemampuannya menerjemahkan naskah film dokumenter menunjukkan kecakapan berbahasa dan komitmennya untuk menghadirkan konten informatif dan edukatif kepada masyarakat Indonesia. Berbagai peran ini menyoroti dedikasinya terhadap industri media dan kemampuannya untuk unggul dalam berbagai bidang.
Kontribusi Anita Rachman terhadap dunia penyiaran Indonesia tidak dapat disangkal. Ia mewakili zaman keemasan pertelevisian di Indonesia, masa ketika tokoh-tokoh seperti dirinya memainkan peran penting dalam membentuk opini publik dan memberi informasi kepada bangsa. Meskipun TVRI mungkin tidak lagi memegang monopoli, warisan Anita Rachman, suara emas pertelevisian Indonesia, terus bergema di hati dan pikiran mereka yang mengingat kehadirannya di layar.

