PALU, Lintas-Khatulistiwa.com – Di balik keindahan Kota Palu, Sulawesi Tengah, tersimpan fakta geologi yang mengejutkan. Kota ini ternyata berdiri di atas bekas Danau Purba Raksasa, dibelah oleh sesar teraktif nomor 2 di Indonesia, dan berada di dalam teluk dengan aktivitas tsunami nomor 2 setelah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
Fakta inilah yang menjelaskan mengapa warga Palu mengatakan sudah terbiasa dengan gempa dan bencana, karena siklusnya memang ada.
1. Kota Palu Berdiri di Atas Danau Purba Raksasa
Berdasarkan kajian geologi dari PVMBG dan BMKG, Lembah Palu jutaan tahun lalu adalah sebuah danau purba yang sangat besar. Seiring waktu, danau itu mengalami sedimentasi dan mengering, menjadi daratan seperti sekarang.
Namun, endapan danau purba itu masih ada, berupa lapisan pasir lepas, kerikil, dan lumpur yang jenuh air dengan muka air tanah yang sangat dangkal, hanya 2-3 meter di bawah permukaan.
Inilah yang menjadi penyebab utama bencana likuefaksi paling mematikan pada 28 September 2018 lalu. Ketika gempa 7,4 SR mengguncang, tanah yang terlihat padat itu seketika kehilangan daya dukung dan berubah menjadi bubur lumpur. Fenomena daratan yang berubah menjadi seperti laut inilah yang menelan tiga kelurahan: Petobo, Balaroa, dan Jono Oge.
2. Sesar Palu-Koro, Sesar No.2 Teraktif di Indonesia
Di bawah danau purba tersebut, membentang Sesar Palu-Koro, sesar geser aktif sepanjang kurang lebih 500 kilometer dari Teluk Palu hingga Teluk Bone.
Sesar ini tercatat sebagai sesar teraktif nomor 2 di Indonesia setelah Sesar Besar Sumatera, dengan pergeseran 35-40 milimeter per tahun. Karena keaktifannya tersebut, siklus gempa besar di Palu berulang setiap 20-30 tahun sekali. Gempa besar tercatat pernah terjadi pada tahun 1927, 1968, 2005, dan 2018.
3. Teluk Palu, Jalur Tsunami Paling Aktif No.2 Setelah Aceh
Selain sesar darat, Teluk Palu juga tercatat sebagai kawasan rawan tsunami paling aktif nomor 2 di Indonesia setelah Aceh.
Bentuk Teluk Palu yang sempit dan mengerucut seperti corong membuat gelombang tsunami akan teramplifikasi menjadi lebih tinggi. Ketika terjadi gempa dan longsor bawah laut di dalam teluk, gelombang tsunami bisa tiba hanya dalam waktu 3-5 menit.
Sejarah mencatat tsunami pernah menerjang Palu pada tahun 1927, 1968 dengan tinggi 8 meter di Mapaga, 1996 di Tonggolobibi, dan terakhir 2018 dengan ketinggian 6-11 meter yang menyapu pesisir Kota Palu.
BMKG menegaskan, Palu dan Aceh memiliki kesamaan karakteristik. Jika Aceh berhadapan dengan Megathrust Samudra Hindia, maka Palu berhadapan langsung dengan Sesar Palu-Koro yang berada tepat di dalam teluknya.
Kepala Pelaksana BPBD Sulawesi Tengah mengimbau warga untuk tidak melupakan sejarah geologi ini. Edukasi mitigasi menjadi kunci, yakni tidak membangun di zona merah bekas tanah purba rawan likuefaksi, menghindari pembangunan di jalur sesar, dan memahami jalur evakuasi tsunami.
Palu memang ditakdirkan hidup berdampingan dengan bencana, namun dengan pemahaman yang benar tentang Danau Purba Raksasa di bawahnya, risiko korban jiwa dapat diminimalisir.
(Tim LK)

