Pangkep, Sulsel, 7 November 2025 – Di tengah hiruk pikuk modernisasi, masih ada permata tersembunyi yang menunggu untuk digali potensi penuhnya. Salah satunya adalah Kecamatan Tondong Tallasa di Kabupaten Pangkep, sebuah wilayah pegunungan yang alamnya melimpah ruah, namun membutuhkan sentuhan visioner untuk benar-benar bersinar. Dan sentuhan itu hadir pada hari ini, ketika Bupati Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Dr. H. Muhammad Yusran Lalogau, S.P., M.Si., menjejakkan kaki di tanah berbukit ini, membawa serta semangat baru dan cetak biru kemandirian.
Matahari pagi menembus kabut tipis yang menyelimuti punggung-punggung gunung, menyinari hamparan hijau yang menyejukkan. Bupati Yusran Lalogau tiba bukan sebagai tamu, melainkan sebagai fasilitator harapan. Kunjungannya bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan misi untuk membangkitkan masyarakat agar lebih serius dan profesional dalam menggali serta mengembangkan potensi lokal yang mereka miliki.
Fokus utama Bupati Yusran adalah ‘sorri’ – gula merah istimewa yang dikemas dalam bambu kecil. Bukan sekadar gula merah biasa, tapi mahakarya rasa dan tradisi yang selama ini mungkin belum mendapatkan panggung seluas yang semestinya. “Sorri ini punya nilai jual tinggi,” tegas Bupati di hadapan warga, “asalkan dikelola dengan baik, dikemas secara menarik. Dari sini, kita bisa menembus pasar yang lebih luas, tak hanya lokal, tapi juga nasional, bahkan internasional.” Bayangkan aroma manis gula merah bambu ini mengisi etalase toko-toko modern, menjadi duta rasa dari Tondong Tallasa.
Namun, visi Bupati Yusran tidak berhenti pada sorri semata. Hamparan hijau Tondong Tallasa menyimpan sejuta janji lainnya. Kacang tanah, pepaya, sirsak, kacang hijau, ubi jalar, hingga ubi kayu—komoditas pertanian yang telah lama menjadi denyut nadi perekonomian warga—mendapat perhatian khusus. Bupati mendorong masyarakat untuk mengoptimalkan hasil panen ini melalui pengelolaan yang profesional. Jika dilakukan dengan perencanaan matang, produk-produk ini tak hanya akan menjadi sumber nafkah, tetapi juga pilar peningkatan kesejahteraan yang signifikan bagi masyarakat pegunungan.
Tak ketinggalan, sektor peternakan juga menjadi sorotan. Bupati Yusran menyerukan modernisasi, sebuah revolusi kecil dalam cara beternak. Ia meminta warga untuk tidak lagi membiarkan ternak, terutama sapi, berkeliaran bebas. Selain dapat merusak tanaman dan kebun warga, ternak yang tak terkelola juga kurang efisien. “Sistem peternakan yang baik itu dengan kandang tertata dan tersedianya pakan yang ditanam sendiri,” jelas Bupati.
Ia menambahkan, “Kalau petani bisa menanam pakan ternak sendiri, maka ternak bisa lebih sehat, cepat gemuk, dan produktivitas meningkat. Ini bagian dari bertani secara profesional dan berkelanjutan.” Sebuah filosofi bertani yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan.
Di sela-sela diskusi produktif, Bupati Yusran juga menyempatkan diri mendengarkan langsung aspirasi warga terkait kebutuhan dasar dan infrastruktur penunjang, seperti akses jalan yang layak dan ketersediaan air bersih. Ia berkomitmen untuk berkoordinasi dengan dinas terkait agar program pembangunan bisa lebih merata, menjangkau hingga pelosok pegunungan Tondong Tallasa.
Camat Tondong Tallasa, Hamzah, yang ditemui setelah kunjungan Bupati, tidak bisa menyembunyikan apresiasinya. “Kami sangat berterima kasih atas perhatian Bapak Bupati,” ujarnya dengan sumringah. “Kehadiran beliau langsung ke lapangan membuktikan komitmen pemerintah daerah dalam membangun dari desa dan pegunungan. Ini menyuntikkan semangat baru yang bergelora bagi warga kami untuk lebih giat mengembangkan potensi lokal.”
Dengan dorongan kuat dari Bupati Yusran Lalogau dan semangat bergelora dari masyarakat Tondong Tallasa, harapan membumbung tinggi. Kecamatan ini diharapkan mampu menjadi salah satu pusat penghasil produk pertanian dan peternakan unggulan di Kabupaten Pangkep. Upaya kolaboratif ini bukan sekadar janji, tetapi sebuah langkah nyata menuju peningkatan ekonomi warga dan kemandirian desa di wilayah pegunungan, mengubah potensi tersembunyi menjadi cerita sukses yang inspiratif. Tondong Tallasa, yang semula dianggap sebagai wilayah terpencil, kini berpotensi menjelma menjadi mercusuar kemandirian dan keberlanjutan. (*)

