LINTAS-KHATULISTIWA.COM. POLSEK Ma’rang,– Udara di Kp. Destamar berdengung dengan energi yang berbeda pada Rabu,24 September 2025 malam itu. Bukan hanya kicauan jangkrik atau desiran laut di kejauhan; melainkan simfoni tawa, irama musik dangdut yang baru lahir, dan aroma manis nan pekat pesta pernikahan adat yang tercium dari rumah Bapak Ambo Tuwo. Lampu-lampu hias menghiasi setiap dahan dan tiang lampu yang tersedia, memancarkan cahaya hangat nan meriah di wajah penduduk desa yang berkumpul untuk menyaksikan penyatuan dua jiwa.
Di tengah kekacauan yang meriah ini, seorang tokoh bergerak dengan anggun, santai, namun penuh tujuan. Aipda H. Abdul Rasid, Bhabinkamtibmas Polsek Marang, tampak akrab dan menenangkan di Alesipitto. Malam ini, seragamnya, yang biasanya identik dengan kemeriahan resmi, berpadu nyaris sempurna dengan busana pesta para tamu – bak penjaga yang tenang di tengah perayaan.
Bagi Rasid, mengurus pernikahan bukan sekadar kewajiban; itu adalah bukti keseimbangan yang rapuh antara tradisi, semangat kekeluargaan, dan ketertiban umum. Ia tahu dari pengalaman betapa cepatnya kegembiraan bisa berubah menjadi kekacauan jika dibiarkan begitu saja. Pertengkaran yang tak terkendali, upaya “saweran” yang terlalu bersemangat (tindakan tradisional melempar uang, yang terkadang berujung perkelahian), atau pergeseran kualitas hiburan ke arah “pornoaksi” – inilah jebakan yang ingin ia hindari.
Ia pertama-tama menemui Bapak Ambo Tuwo, tuan rumah, seorang pria yang wajahnya, meskipun berseri-seri karena bangga, juga dipenuhi sejuta kekhawatiran. “Assalamualaikum, Bapak Ambo,” sapa Rasid, suaranya tenang dan mantap. “Selamat atas acara bahagia ini. Tenang saja, kami di sini untuk mendukung.”
Senyum Bapak Ambo melebar. “Waalaikumsalam, Aipda Rasid. Terima kasih sudah datang. Kehadiranmu saja sudah memberikan ketenangan pikiran.”
Rasid mengangguk. “Sekadar mengingatkan, Bapak. Mari kita pastikan keceriaan ini tetap sehat. Tidak ada ‘pornoaksi’ atau ‘saweran’ yang dapat mengganggu keharmonisan. Kita ingin semua orang mengingat malam ini karena kegembiraannya, bukan karena kesulitannya.” Bapak Ambo setuju dengan sungguh-sungguh, tangannya menepuk lengan Rasid sebagai tanda tanggung jawab bersama.
Saat malam semakin larut, Rasid bergerak di antara kerumunan bagai arus yang tenang, tatapannya tenang namun mendalam. Ia mengamati para tetua menikmati teh mereka, anak-anak berlarian di antara kaki-kaki dalam permainan kejar-kejaran, dan pasangan-pasangan muda yang malu-malu berpegangan tangan. Kehadirannya menjadi pencegah yang halus, sebuah pengingat yang tenang bahwa meskipun pesta pora disambut baik, rasa hormat dan ketertiban harus diutamakan.
Ia berhenti di dekat panggung darurat tempat seorang penyanyi lokal mencurahkan isi hatinya ke dalam balada yang menyentuh jiwa. Ia memperhatikan sekelompok kecil pemuda, tawa mereka agak terlalu riuh, mata mereka mulai sayup-sayup karena efek kopi yang kuat dan percakapan yang hidup. Rasid hanya berdiri di dekatnya selama beberapa saat, seragamnya tampak seperti siluet diam dan berwibawa di antara lentera-lentera yang menyala. Perlahan-lahan, volume suara mereka mereda; beberapa bertukar pandang penuh arti dan menegakkan tubuh. Tak perlu kata-kata.
Inilah esensi sejati karyanya – bukan penangkapan dramatis, melainkan upaya yang tenang dan konsisten untuk menjaga jalinan kehidupan bermasyarakat. Ia adalah jangkar yang menjaga kapal perayaan tetap stabil, memungkinkannya berlayar dengan mulus menembus malam. Ia melihat kebahagiaan sejati di wajah-wajah di sekitarnya, persatuan, harapan bersama bagi kedua pengantin baru, dan merasakan tujuan yang mendalam.
Kemudian, ketika nada akhir musik memudar dan para tamu mulai bubar, meninggalkan dengungan kepuasan yang memuaskan, Aipda Rasid melakukan penyisiran terakhir di area tersebut. Kedamaian terasa nyata. Ia mengirimkan laporan singkat dan padat ke Polsek Marang melalui radio tentang “situasi aman dan kondusif.”
Kapolsek Marang AKP Hj. Rahmania, S.Sos, akan menerima laporan tersebut. Ia sering menekankan peran penting para petugas Bhabinkamtibmas. “Mereka adalah mata dan telinga pasukan di desa-desa,” ujarnya kepada timnya. “Sambang dan himbauan Kamtibmas yang terus-menerus mereka lakukan bukan sekadar prosedur; mereka adalah benang merah yang menjalin komunitas yang kuat dan aman. Dalam tindakan kehadiran yang tampaknya kecil inilah, keamanan sejati tercipta.”
Saat Aipda Rasid meninggalkan Kp. Destamar, meninggalkan remang-remang lampu Bapak Ambo Tuwo yang mulai redup, ia tahu tugasnya lebih dari sekadar menjaga keamanan. Tugasnya adalah menjaga kegembiraan, menjunjung tinggi martabat, dan memastikan di jantung Marang, kenangan indah lainnya dapat tercipta, tanpa gangguan. Malam itu hanyalah malam biasa, sebuah bukti dedikasi yang hening dan teguh untuk Kamtibmas.

